Namaste from India: SISTEM KASTA INDIA MODERN

Sunday, December 10, 2006

SISTEM KASTA INDIA MODERN

Para pemimpin India dewasa ini telah menentukan bahwa India akan menjadi sebuah negara yang demokratis, sosialis dan sekuler. Menurut undang-undang, ada pemisahan antara agama dan negara. Tindakan penghinaan atau pendiskriminasian terhadap seseorang berdasarkan kastanya sangat dilarang. Bersamaan dengan hukum ini, pemerintah menerapkan Diskriminasi Positif bagi kaum tertindas di India.

Diskriminasi Positif (Positive Discrimination / Affirmative Action) adalah kebijakan / program pemerintah yang bertujuan untuk mengkoreksi praktek diskriminasi dimasa lalu dan sekarang melalui tindakan-tindakan aktif untuk menjamin persamaan hak untuk memperoleh kesempatan di dalam pekerjaan dan pendidikan.

Saat ini masyarakat India juga lebih fleksibel dalam pengaturan sistem kasta mereka. Umumnya masyarakat perkotaan di India tidak terlalu peduli dalam sistem kasta dibandingkan masyarakat pedesaan. Di kota-kota bisa terlihat orang dari kasta yang berbeda berinteraksi satu sama lain, sementara di beberapa desa masih ada diskriminasi yang didasarkan kasta dan seringkali juga terhadap kaum paria atau kaum diluar kasta (untouchable). Kadang-kadang baik didesa maupun dikota, masih seringkali terjadi bentrokan sehubungan dengan ketegangan antar kasta. Kasta tinggi menyerang kasta rendah yang berani untuk mengangkat status mereka. Akibatnya Kasta rendah menjauhkan diri dari Kasta tinggi.

Di India modern, istilah Kasta (caste), diperkenalkan oleh Kolonial Inggris yang menguasai India sampai 1947. Inggris yang ingin menguasai India, secara efisien membuat daftar masyarakat India. Mereka menggunakan dua istilah untuk menggambarkan komunitas India, yaitu Caste dan Tribes. Istilah Kasta digunakan untuk Jat dan Varna. Tribes adalah komunitas yang hidup di kedalaman hutan, rimba dan pegunungan yang jauh dari keramaian dan juga bagi komunitas yang sulit untuk diberi kasta contohnya komunitas yang mencari nafkah dari mencuri atau merampok. Daftar-daftar inilah yang dipakai juga oleh Pemerintah India untuk menciptakan daftar komunitas yang diberlakukan Diskriminasi Positif.

Masyarakat India dari golongan elit digolongkan kasta tinggi. Komunitas lain diklasifikasikan kasta rendah atau kelas rendah. Kelas rendah ini dibagi lagi dalam 3 kategori. Kategori pertama disebut Scheduled Castes (SC), atau disebut juga Dalit. Yang masuk kategori ini adalah masyarakat dari luar kasta (paria). Kaum ini eksis di tingkatan yang sangat rendah. Sampai akhir tahun 80-an, mereka disebut Harijan, artinya anak Tuhan. Julukan ini diberikan oleh Mahatma Ghandi pada mereka agar masyarakat dapat menerima kaum paria ini diantara mereka.

Kategori kedua adalah Scheduled Tribes (ST). Kategori ini termasuk didalamnya masyarakat yang tidak menerima sistem kasta dan lebih suka hidup di kedalaman hutan, rimba dan pegunungan di India, jauh dari keramaian masyarakat. ST juga disebut Adivasis yang berarti penduduk asli. Untuk golongan ini Ghandi memberi nama Girijan, yang artinya orang2 bukit. Masyarakat ST ini banyak terdapat di negara bagian Orissa, Bihar, Jharkhand dan di negara bagian ujung timur laut india, Mizoram.

Kategori ketiga sering disebut Other Backward Classes (OBC) atau Backward Classes. Kategori ini termasuk didalamnya kasta dari Sudra Varna dan juga mantan paria yang telah pindah dari Hindu ke agama lain. Kategori ini juga mencakup nomad dan tribes yang mencari nafkah dari tindakan kriminal.

Menurut kebijakan pemerintah pusat, tiga kategori ini berhak masuk dalam Diskriminasi Positif. Kadang2 tiga kategori ini didefinisikan bersama sebagai Backward Classes. 15% dari populasi India adalah SC. Menurut kebijakan pemerintah pusat 15% dari pekerjaan dipemerintahan dan 15% dari mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi berasal dari SC. Bagi ST sekitar 7.5% dialokasikan bagi mereka yang memiliki 7.5% dari populasi India. OBC sekitar 50% dari populasi India, namun hanya diberi 27% pekerjaan pemerintah bagi mereka.

Selain pemerintah pusat, pemerintah negara bagian juga menerapkan kebijakan diskriminasi positif ini. Tiap2 negara bagian memiliki proporsi tersendiri untuk diterapkan pada diskriminasi positif ini berdasarkan populasi masing2 negara bagian. Masing2 pemerintah negara bagian memiliki daftar komunitas yang berbeda pula untuk diskriminasi positif ini. Kadang2 komunitas tertentu diberikan hak di satu negara bagian, sementara dinegara bagian lainnya tidak.

Di India modern sekarang, ketegangan mulai timbul karena kebijakan diskriminasi positif ini. Komunitas dari kasta tinggi merasa terdiskriminasi oleh kebijakan pemerintah untuk mengalokasikan posisi bagi Backward Class. Dalam beberapa kasus, sejumlah kasta tinggi bersaing untuk mendapatkan tempat bagi mereka. Sementara anggota dari BC tidak perlu bersaing sama sekali karena ada sejumlah besar kuota/jatah sudah dipersiapkan bagi mereka. Kadang2 untuk memenuhi kuota ini, kandidat dari kasta rendah diterima meskipun mereka tidak berkompetensi untuk posisi tersebut. Kadang2 juga posisi yang telah dialokasikan ini tetap dibiarkan kosong karena hanya ada beberapa kandidat dari kasta rendah, dan hal inilah menyebabkan ketegangan di antara kasta.
Diantara kasta rendah sendiri ada juga ketegangan terhadap reservasi ini.

Dalam urutan prioritas untuk reservasi bagi Backward Class, adalah sebagai berikut : SC, ST dan OBC. Seperti yang disebutkan diawal, OBC sekitar 50% dari populasi India namun hanya 27% dari OBC ini berhak atas diskriminasi positif menurut kebijakan pemerintah pusat. Beberapa komunitas OBC sedang mengorganisir secara politik agar mereka diakui sebagai BC yang berhak atas diskriminasi positif.

ST yang dianggap sebagai penduduk asli India memegang kepemilikan dan hak2 tertentu terhadap tanah India. Banyak komunitas di India juga asli India dan mereka menuntut hak yang sama seperti ST.

Identitas kasta ini telah menjadi subjek interpretasi politik, social dan hukum. Komunitas yang terdaftar untuk diskriminasi positif ini tetap tidak bisa keluar dari daftar ini meskipun kondisi sosial dan politik mereka telah membaik. Dalam banyak kasus sistem hukum dilibatkan untuk menentukan apakah seseorang tertentu masuk dalam diskriminasi positif.

Namun dengan semua kebijakan diskriminasi positif yang dijalankan ini, sebagian besar masyarakat yang masuk dalam kasta rendah tetap rendah didalam tingkatan sosial pada saat ini. Sementara masyarakat yang berada pada kasta tinggi tetap tinggi dalam hirarki sosial. Sebagian besar pekerjaan rendahan sampai saat ini tetap dikerjakan oleh Dalit, sementara Kaum Brahmana tetap pada puncak hirarki dengan menjadi dokter, insinyur dan ahli hukum di India.

S9, Khosla Bhawan

Labels: ,

14 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Saya sendiri tidak terlalu setuju dengan kasta. Karena pada hakikatnya manusia dilahirkan sama. Akan tetapi menurut saya menerapkan UU untuk menghapus kasta juga tidaklah semudah membuat UU itu sendiri. Menghapus sistem kasta adalah sebuah dekonstruksi sosial, sebuah perubahan cara pandang suatu masyarakat artinya mencuci otak seluruh bangsa India. Saya rasa di banyak etnis di Indonesia kita masih mengahdapi praktek-praktek "kastanisasi" yang juga menarik untuk di bahas.

salam

8:24 PM  
Blogger E Murwanto said...

Salam kenal mbak Muna.
Thanks udah mau ninggalin apresiasi pada tulisan saya.
Suatu kehormatan bagi saya karena kunjungan anda. Muasal tulisan ini dibuat karena sejak dari beberapa bulan lalu "perangkat audio-visual" ditubuh saya ini mendapat serangan bertubi-tubi dari serombongan istilah seperti : SC, ST, OBC, Kuota, Reservasi, Dalit dan kawan2nya. Mungkin karena saya lagi di India, dan terminologi2 seperti itulah yang menjadi komoditi di "talking shop" di India saat ini. Demo mahasiswa anti reservasi di mana-mana, "merit yes, quota no" dll.
Jadi saya hanya ingin tahu dasar dari semua masalah, makanya tulisan ini saya buat.
Anyway, sering2 berkunjung, karena saya masih akan menulis tentang masalah ini lebih lanjut.
Salam.

8:29 AM  
Blogger mobile tips said...

salam kenal

waktu browsing mengenai sistem kasta saya ketemu dengan blog anda. saya mahasiswa Hub internasional yang sedang melakukan penelitian mengenai "upaya vajpayee mengatasi diskriminasi n violence thdp masyarakat dalit India". adakah kebijakan vajpayee yang khusus untuk mengatasi mslh dalit???
mohon bantuannya ya..

8:53 PM  
Anonymous Anonymous said...

what means kebijakan....?

8:54 AM  
Anonymous Anonymous said...

mengapa tidak:)

12:14 PM  
Anonymous Anonymous said...

Interessanter Beitrag

3:51 AM  
Anonymous Gita said...

Wow, I like this article. This is interesting article!

1:09 AM  
Anonymous Gita said...

Wow, I like this article. This is interesting article!

1:10 AM  
Anonymous sarastoges said...

good2...i like it

7:32 PM  
Anonymous saras@yoges said...

i like it...........thanks

7:33 PM  
Anonymous Indra Saputra Ahmadi said...

Saya sudah agak mengerti dengan kasta di india ini, begitu rumitnya sehingga untuk menghapus kasta ini sepertinya juga membutuhkan cara yang sangat-sangat rumit dan memakan waktu yang sangat lama.

3:26 AM  
Blogger Talitha Nindia said...

salam kenal
saya mahasiswi ilmu komunikasi,saya mencari sistem kasta di india,membutuhkan data-data dari blog ini untuk laporan tentang kebudayaan india,bolehkah saya meng-copy data-data ini sebagai laporan saya? tentunya akan saya tulis alamat blog ini sebagai sumber
terimakasih sebelumnya

1:02 AM  
Blogger E Murwanto said...

Boleh aja mbak, silahkan saya sangat swnang sekali.

1:26 AM  
Anonymous Anonymous said...

Ada yang tau caranya dapetin kasta india tanpa nikah ga?? Gw butuh kasta buat nikah.. Harus punya kasta baru bisa nikah.. Tolong bantu semunya... Thanks.

3:56 AM  

Post a Comment

<< Home

TIPS dan TUTORIAL MEMBUAT BLOG BAGI PEMULA

•[1]Membuat Blog   •[2]Cara Praktis Promosi Blog (1)   •[3]Cara Praktis Promosi Blog (2)   •[4]Beasiswa Google Adsense   •[5]Kiat Membuat Abstraksi di Blogspot   •[6]Arsip Pull-Down   •[7]Permasalahan Posting Abstraksi   •[8]Pasang Foto di Profile Blogspot    •[9]Memaksimalkan Kerja Blogger   •[10]Membuat Link di Posting & Window Baru   •[11]Aksesoris Blog •[12]Apa itu Feed, RSS dan XML? •[13]Technorati: Direktori blog, Tag & Bookmark Online •[14]Supaya Di-Index Google: Google Sitemaps •[15]Mengapa Juwono Sudarsono nge-Blog •[16]Cara Daftar Google AdSense •[17]Google AdSense Referral •[18]Aggregator Blog Indonesia •[19]Membuat Link di Sidebar •[20]Membuat Menu Pull-Down di Sidebar •[21]Blogger Versi Baru (BETA) •[22]Mengapa Blog Melorot •[23]Daftar Iklan Adbrite •[24]Cara Membuat Marquee •[25]Tip Menulis di Blog •[26]Cara Pasang Kode HTML/Javascript di Blogger Beta •[27]Pasang "Recent Comments" di Sidebar


TIPS MENULIS DI MEDIA:

•[1]Daftar Alamat Email Media Koran    •[2]Bagaimana Memulai Menulis?    •[3]Meresapi Gaya Orang Menulis    •[4]Membina Hubungan dengan Media   •[5]Basis dan Topik Artikel   •[6]Biodata Penulis dan Honor Tulisan •[7]Nulis Buku, Pak Dosen! •[8]Menulis Surat Pembaca •[9]Menulis Artikel Bahasa Inggris


BLOG MAHASISWA & MASYARAKAT INDONESIA DI INDIA

Abdullah Elwazeen  • A. Fatih Syuhud  • Ahmad Qisai   • Aila El Edroos  • Dudi Rahman  • Fadlan Achadan  • Hasbi Assidiqi  • Hery Martono  • Irwansyah Yahya  • Joni Rahalsyah Putra  • Julkifli Marbun  • Jusman Masga  • Khairurrazi   • Lily Mumbai  • Lisa Cochin  • Lukman Nul Hakim  • Mario  • Muhammad Ikhsan   • Mujazin   • Mukhlis Zamzami Chaniago  • Nasha Nadeera Cochin  • Pan Mohamad Faiz  • Purwarno Hadinata  • Putu Widyastuti Rudolf  • Rahmanita   • Rini Ekayati  • Rizqon Khamami  • Saifullah Hayati Nur  • Tasar Karimuddin  • Tylla Subijantoro  • Uci Mumbai  • Umi Kalsum  • YASER AMRI  • Yunita Ramadhana  • Zamhasari Jamil  • Zulfitri  • zulfikar karimuddin 


Insightful Blogger:

A Better World for All: Nadirsyah Hosen    • Agusti Anwar: Opinion Counts    • Ahmad Qisai: Politics and Society   • Eva Muchtar: Pilgrim of Life   • Gus Dur - KH Abdurrahman Wahid   • Hermawan Kartajaya re:thinking marketing   • Indonesia Anonymus    • Indonesia Today by Yosef Ardi   • Jennie S. Bev Author Professor Consultant   • Juwono Sudarsono   • Martin Manurung   • Ong Hock Chuan    • Paras Indonesia    • Sarapan Ekonomi | Indonesia's Economy   • saya--My Philosophy   • WIMAR WITOELAR: Perspektif Orang Biasa   


Global Blog Directory:

Who links to me?  •Global Voices   •Kinja Blogger Indonesia   •Kinja Beasiswa Indonesia   •Blogdigger

Kinja, the weblog guide